Saint Bartholomew

Fergal of Claddagh via Flickr

ROGO SUKMO MENEMBUS ALAM GAIB

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

         Dalam postingan kali ini narablog mencoba menuangkan hasil reportase petualangan di bidang keilmuan yang mana  membuat heboh dan penasaran bagi yang sedang mencari informasi.

Postingan kali ini hanya bersifat memberikan informasi tentang apa itu mengenai “rogo sukmo” menurut keilmuan  dan tidak bermaksud untuk hal lain.

Menelisik suatu demensi pokok yang terkesan paradoksal, bahwa manusia dapat menembus dua alam sekaligus, alam fisikal dan alam ruh atau alam gaib.

Alam fisikal berkonotasi pada alam jasmaniah manusia, sedang alam ruh berkonotasi pada alam gaib. Jiwa yang telah melewati cakrawala kemalaikatan alam selalu terbuka atas segala tirai kegaiban. Alam akal murni, sebagaimana juga jiwa seseorang merupakan piranti untuk membukakan mata hati hingga dapat menjangkau  alam  gaib.

        Alam gaib merupakan alam akal dan alam spiritual. Jiwa-jiwa yang telah menembus alam ini akan sangat tertarik pada keindahan alam dan sekaligus keindahan Tuhan. Jiwa-jiwa agunglah yang hanya dapat tersingkap atas segala kegaiban itu.

Alam gaib selalu mengabarkan tentang sesuatu yang sulit dipercaya, di luar jangkauan akal pikiran manusia. Alam gaib merupakan alam di mana seluruh manusia yang hatinya tidak dibuka tirai-tirainya akan sangat tidak percaya, karena alam ini merupakan alam yang tidak logis, sulit ditangkap oleh kecanggihan ilmu pengetahuan, apa lagi dirambahi dengan kemampuan panca indera manusia yang sangat  minim.

SPIRITUAL JAWA
Dalam konsepsi spiritual Jawa, alam ini terdiri dari tiga bagian, yakni ; Purwa, Madya, dan Wasana.
  1. Purwa merupakan lahirnya manusia di dunia
  2. Madya merupakan sebuah proses dari kehidupan manusia di dunia, dan
  3. Wasana berupa berakhirnya kehidupan manusia.
Artinya; manusia bila sudah meninggal, rohnya akan tetap hidup di alam kelanggengan.
Dimensi orang yang sudah meninggal (mati) berbeda dengan yang masih hidup. Manusia meninggal hanya tersisa roh, roh yang memiliki kehidupan tapi tidak membutuhkan ruang dan waktu atau hidup di dua dimensi, bukan tiga dimensi.
          Lewat meditasi manusia memiliki kemampuan menembus dan melihat kehidupan yang telah berlalu. Kuncinya pada kekuatan batin dan kejernihan hati serta pikiran.Semua manusia dapat melakukan asal berkonsentrasi penuh dalam berlatih disertai melakukan laku spiritual dalam kehidupan sehari-harinya.. Laku spiritual yang dijalankan oleh manusia tersebut yaitu ;
  • Laku atau lakon “Jasmani”. Seseorang harus berbudi pekerti yang baik, yaitu diwujudkan dengan bertindak dan bertutur kata yang baik dan berhati suci. Dengan membebaskan hati dari dari rasa dengki, dendam, sakit hati dan benci. tindakan bisa dikatakan baik, bila tindakan itu dilandasi rasa sabar, rela, lemah lembut dan bertujuan untuk menciptakan manfaat bagi kehidupan.
  • Laku batin , dijalankan dengan hati yang selalu berbuat baik. yang diutamakan adalah hal-hal yang baik dan terpuji. Dengan kata lain, untuk menjalani laku batin pada saat menjalankan ritual ibadah puasa, seseorang harus berusaha keras untuk setia terhadap kemauan baik, seperti pandai bersyukur, pandai untuk berbuat kebajikan atau perbuatan yang mandatangkan hal-hal berguna bagi manusia, makhluk hidup di sekitarnya dan lingkungannya.
  • Laku jiwa, dijalankan atau dipraktekan dengan cara mengendalikan diri di setiap waktu dan keadaan, yaitu dengan hidup sabar, tulus ikhlas serta tawakal. inilah yang disebut laku akhli hakekat. Orang yang sudah mengamalkan atau menjalankan laku jiwa akan mewujudkan hidupnya dengan toleransi, tenggang rasa dan menghargai kepercayaan dan keyakinan orang lain. Selain itu dia juga berusaha membuat orang lain senang, termasuk dalam berhubungan dengan suami atau isterinya. Bagi mereka yang telah menjalankan laku jiwa, semua tugas akan selalu dikerjakan dengan penuh kesabaran, kecermatan, ketenangan, dan kehati-hatian. Ini mrupakan bukti dari keteguhan batin dan kekuatan iman. Orang tersebut tidak akan goyah oleh pengaruh orang lain dalam bentuknya.
  • Laku hidup atau laku akhli marifat. Ini merupakan puncak laku atau lakon, yaitu menjalani hidup dengan semua sifat keutamaan.Pada laku atau lakon hidup, orang tersebut sudah hidup secara hening, diam tidak terusik oleh apa pun serta jernih hati dan pikirannya sehingga yang dirasakan dalam hidup ini merupakan rasa hidup sejati. Orang yang sudah mencapai laku hidup ini selalu merasakan yang ada dalam kehidupan ini, sadar sepenuhnya dan menyadari hakikat hidup ini. serta waspada melihat segala hal yang bisa menimbulkan kerugian atau penderitaan dalam hidupnya.
         Kejadian manusia menerobos dimensi masa lampau pernah dialami oleh nabi Muhammad saw saat melakukan Isro Mi’raj, dengan kendaraan super cepat bernama Bouroq. Nabi Muhammad Saw berhasil menembus waktu yang terlewat dalam semalam saja dan biasa melahat dan bertemu para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul sebelumnya, atau pun rahasia-rahasia alam yang tidak pernah diketahui manusia pada jaman dulu, ini dan esok. Meski kemampuan manusia sekarang tidak sebanding dengan Rasulullah, setidaknya selama manusia masih memiliki roh, maka dapat melakukan hal serupa menembus ruang tiga dimensi. Dan hal ini sudah di buktikan oleh beberapa para ulama besar yang mengalami kejadian ini.
     Secara supranatural manusia dapat menembus ke masa lalu, tetapi bukan dengan jasad kasar. Ia harus menggunakan alat kebathinan yang benar-benar memadai, dan terlatih secara benar spiritualnya dengan menjalankan sesuai patrap-patrapnya, sebagaimana ia dapat melepaskan rohnya untuk menuju ke masa lalu maupun masa depan.
KONTEKS AGAMA BUDHA
       Dalam konteks agama Budha, kehidupan manusia itu berulang-ulang. Mereka tidak hanya mengalami sekali atau dua kali saja. Selama masih membersihkan nafsunya, maka akan menyebabkan kelahiran kembali. Inilah yang disebut Reinkarnasi.
         Sebenarnya proses kembalinya manusia ke masa lampau dapat dilalui dua cara, yaitu roh dan jasad roh. Maksudnya bila manusia ingin melewati ruang dan waktu biasa menggunakan bantuan media roh, dengan cara melepaskan roh dari jasad. Atau keduanya antara jasad dan roh berjalan beriringan sejajar, dan saling bergandengan.
         Teori Reinkarnassi mengatakan, bila kita pernah hidup sebelumnya, maka kita akan menjalankan kehidupan pada masa datang. Berapa lama waktu yang dibutuhkan setiap Reinkarnasi sangat tergantung pada kehidupan tingkat spiritualnya atau perkembangan jiwa seseorang tersebut.
         Manusia mengakui ada kehidupan sebelum yang sekarang. Tapi tidak setiap manusia mengakui adanya reinkarnasi (kelahiran kembali pada tubuh yang baru). Orang-orang yang mengikuti ajaran tertentu tegas-tegas menolak, kepercayaan adanya Reinkarnasi.Dunia memang sudah berusia jutaan tahun, namun yang hidup di masa lalu dan sekarang sangat berbeda. Roh manusia yang hidup sekarang tidak pernah hidup di masa lalu. Apa yang dirasakan tentang masa lalu hanya suatu pengetahuan bukan karena kita hidup dari tubuh yang satu ke suatu tubuh yang lain di masa yang berbeda.
ALAM GAIB.
        Alam gaib ”tersurat” merupakan alam gaib yang dihuni oleh orang zuhud,atau orang yang melepaskan kepentingan dirinya demi “wujud” lain yang ada bersama dirinya sehingga ia “tidak ada” (gaib) di kala ia menyaksikan sesuatu bagi Yang Maha Haq (Allah).Hal ini dapat juga diartikan sebagai kelenyapan dari kefanaan. Semuanya atas dasar ijin dan kuasa Ilahi semata. Ini merupakan hal yang haq dan tidak bertolak belakang dengan kebajikan.
         Tahapan dari kegaiban dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada kelenyapan manusia dari yang fana, hingga dapat menjemput yang hakiki dengan pengetahuan yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya. Masih ada hal lain yang berhubungan dengan kelenyapan manusia dari yang fana, yaitu kefanaan dari yang lebih fana, kegaiban dari segala yang gaib. Kelenyapan semacam ini hanya ada dalam Dzat Tuhan yang bersifat Maha Gaib. Sedangkan kefanaan dari segala hal yang lebih fana merupakan kegaiban yang lebih sublime,dan ini merupakan puncak dari kegaiban itu sendiri. Kegaiban yang sejatinya masih memiliki sekat itu merupakan pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada dalam alam  gaib,   sedangkan puncak dari segala kegaiban itu merupakan momentum pertemuan dengan Allah itu sendiri.
         Tentang apa yang telah dikatakan oleh orang-orang yang menganggap kegaiban itu sebagai  sesuatu yang berlebihan, mungkin karena ia masih dalam kungkungan alam fisikalnya.Manusia belum dapat kembali kemasa lalu meskipun sedetik, apalagi kembai ke masa ratusan atau ribuan tahun silam. Kegaiban bukanlah barang yang mudah untuk dipercaya, apalagi terhadap sesuatu yang terlampau bohong untuk diketahui.Bahwa kegaiban itu secara hukum fisikal atau hukum-hukum syari’at yang memang termasud untuk kehidupan fisik haruslah dipisahkan. Mungkin atas segala fisik, kegaiban tidak mempunyai hukum yang konkret dan disepakati oleh akal rasional. Alam gaib tidak membutuhkan pada kenikmatan fisik, karena kenikmatan itu pada akhirnya akan lenyap dengan sendirinya. Kenikmatan yang ada di alam fisik sejatinya merupakan cobaan yang diperlihatkan oleh Tuhan..
Kenikmatan di alam gaib bagai buah yang tidak ada tandingan rasanya. Orang yang telah memakannya, ia akan merasakan betapa buah itu membuatnya tidak menoleh pada apapun selain dirinya.Ia tidak tahu lagi bagaimana takdir Allah terhadapnya. Ia hanya pasrah atas dasar terlalu lelap dengan kenikmatan alam gaib. Alam gaib yang “tersurat” merupakan sesuatu yang ada dalam akal, tetapi tidak seperti yang dimiliki manusia yang eksistensinya lebih bersifat murni, akal yang lebih jernih, yang tercerahkan oleh cahaya itelegensi.
          Dalam anggapan dan konsepsi manusia, akal murni lebih dalam daripada akal yang manusia pakai dan bawa ke mana saja ia pergi, karena akal murni lebih kosong dan tidak diisi dengan pikiran-pikiran dan imajinasi-imajinasi kotor seperti akal manusia
         Akal murnidapat diandaikan sebagai sebuah botol kosong yang dapat dituangi apa saja dari ilmu pengetahuan dunia maupun akhirat.Isi dari akal murni merupakan segala hal yang suci, kearifan, dan kebaikan-kebaikan semata. Itu merupakan suatu tonggak dari akal murni, yang memberinya inspirasi tentang kehidupan.
         Alam gaib yang biasa dihuni oleh para kalangan spiritual merupakan alam yang dikonotasikan sebagai alam jin. Kata jin berasal dari bahasa sansekerta, yaitu “janne” yang berarti “pengetahuan”.Jika memang demikian adanya, maka alam gaib tidak ubahnya sebagai pengetahuan atau pemahaman yang luas akan sebuah alam akal manusia yang memang tidak berwujud secara fisik.Jika demikian, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa alam jin berarti adalah alam akal, di mana setiap manusia memilikinya.
       Hanya segelintir orang saja yang dapat menembus alam gaib.Karena tidak seorangpun yang dapat menembus alam itu, kecuali waliyullah yang memang diberi keistimewahan dapat mengetahui segala yang gaib dari Tuhan.Dan dari semua waliyullah tidak secara keseluruhan yang dapat menembus alam gaib, apalagi seseorang yang selain waliyullah.

        Seperti yang diyakini akal murni merupakan alam di mana pengetahuan atau pemahaman yang diperoleh lebih luas daripada akal manusia.Yang dimaksud dalam hal ini adalah retakan-retakan pengalaman dalam perjalanan spiritual seseorang.

Seperti juga keyakinan kita bahwa pengetahuan akan ilmu dan sekaligus pemahamannya yang mendalam dari obyek tersebut merupakan subjek yang terangkum dalam akal manusia. Termasuk orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang tinggi terhadap dunia keilmuan dapat digolongkan pada tingkatan ini.

Pengetahuan yang dapat diperoleh oleh akal manusia merupakan pengetahuan yang sifatnya jasmaniah, sedangkan pengetahuan yang dapat diperoleh oleh akal murni merupakan pengetahuan yang sifatnya ruhaniyah. Pengetahuan yang bersifat jasmaniah di sini merupakan pengetahuan secara fisik, sedangkan pengetahuan yang sifatnya ruhaniayah merupakan pengetahuan metafisika.

      Mata hati menandakan terbukanya sebuah tirai atau tedeng aling-aling yang menyekat antara alam gaib dengan alam fisik. Orang yang mata hatinya terbuka merupakan orang yang dapat melihat sesuatu yang terdapat di alam gaib, mengetahui telah berlalu dan bahkan yang belum terjalani.Hal ini berhubungan dengan kedalaman dan kejernihan jiwa, karena tidak satupun manusia yang benar-benar cinta kepada Tuhan kecuali dia yang jernih jiwanya dari hal-hal yang kotor dalam hati dan pikirannya.

     Beberapa ilmuwan secara teoritis telah berhasil memecahkan rahasia menembus waktu yang telah terlewati. Namun realisasi menerobos dimensi masa lalu secara fisik belum pernah dilakukan. Manusia tidak mungkin mengalami hidup ke masa lalu atau kembali ke masa lalu, kecuali manusia tersebut mempelajarinya dengan ilmu. Itu pun bersifat wawasan bukan kembali ke masa lalu secara harfiah. Jika fisik merupakan alam Tuhan, maka ruhaniyah (gaib) merupakan nafas Tuhan. Nafas yang satu ini merupakan pusat nafas yang mana disebut nafas kehidupan, Jiwa yang melanglang buana, sesuatu yang datang dari langit, berfungsi bagi penguasaan terhadap alam gaib. Orang yang menembus alam gaib, dengan jiwa ke-Tuhanannya, dapat menguasai jin dan makhluk halus yang bejat sekalipun. Mereka juga dapat berpapasan langsung dengan para malaikat dan para ruh pendahulu, juga ruh para nabi.

     Alam gaib dan alam fisik bagai suatu mata uang dengan gambar yang berbeda di sisi. Alam gaib dihuni oleh makhluk Allah yang diciptakan dari benda halus, tidak dapat diraba dan dilihat oleh mata, sedangkan fisik sebaliknya. Sehingga pengetahuan akan keduanya saling sangat dibutuhkan.
     Alam gaib telah banyak terjelentrehkan, maka alam fisik  juga penting kiranya untuk turut diketahui bagaimana hakikat sejatinya. Karena kita manusia yang hidup di alam fisik seyogyanya sangat  membutuhkan dan menantikan terbukanya tirai penghalang penglihatan mata fisik untuk dapat juga bercinta dengan Allah SWT dan  ruh para pendahulu dalam alam gaib, sebagaimana para wali Allah yang dapat hidup di dua tempat yang berbeda dan telah merasakan bagaimana nikmatnya..
     Sejatinya alam fisikal yang termanifestasi oleh alam dunia, hanya merupakan perangkat menuju pada pemenuhan tujuan, kebahagiaan tidak terbatas di akhirat kelak. Itulah hakikat dari keberadaan alam fisik. Manusia hidup di dunia bukanlah untuk menciptakan kemerlap bagi dirinya sendiri di akhirat.
     Kebebasan kehendak bagi manusia merupakan bentuk keniscayaan yang perlu disyukuri. Karena dengan kebebasan manusia dapat mengambil jalannya masing-masing. Tapi bahwa jalan itu tertumpu pada titik pusat yang sama, yaitu ke hadirat dan ridho Allah itu sendiri. Dengan Mengatasi Permasalahan Yang Kecil; Maka, Kita Dapat mengatasi Permasalahan Yang Besar.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Iklan